C. Verbal
Kemudian terakhir, untuk aspek verbal, saya memahaminya sebagai bagaimana kita menyiapkan materi yang akan dibawakan ketika menjadi pembicara. Namun, apakah semua materi bisa kita kuasai dan bawakan? Menurut saya, tentu tidak mungkin. Karena itu, penting bagi seorang pembicara untuk memilih topik yang benar-benar dikuasai, relevan dengan audiens, serta sesuai dengan konteks acara. Maka yang perlu kita persiapkan adalah :
- Siapkan materi yang memang kita kuasai
Benjamin Franklin (1706–1790) pernah menyampaikan pesan: “Failing to prepare is preparing to fail.” Dalam bahasa Indonesia, artinya: “Gagal menyiapkan sama dengan menyiapkan kegagalan.”
Siapkanlah materi yang memang kita kuasai! Bahkan untuk materi yang kita kuasai saja perlu persiapan, apalagi jika kita diminta membawakan materi yang sebenarnya tidak kita pahami. Bagaimana mungkin kita ingin memberikan pemahaman dan manfaat kepada audiens, jika kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita sampaikan? Betul, kan? Jelas bertentangan juga dengan mindset yang sudah bahas sebelumnya
Nah, inilah salah satu diantara penyebab kenapa banyak pemula dalam public speaking merasa nervous, belibet, bahkan kehilangan fokus: mereka tidak benar-benar menguasai materi yang dibawakan.
Saya coba berikan contoh sederhana. Misalnya Anda seorang driver ojek online yang ditanya seseorang tentang alamat tertentu. Kebetulan alamat yang ditanyakan adalah tempat yang sudah Anda kenal betul. Bayangkan betapa lancar, jelas, dan percaya dirinya Anda memberikan petunjuk arah. Bahkan ibaratnya sambil merem pun, Anda tetap bisa menunjukkan jalan. Sampai dimana bagian jalan yang rusak, belokan kiri kanan, patokan-patokannya bisa Anda sampaikan. Itulah gambaran seorang pembicara yang benar-benar menguasai materinya
Sekarang, bayangkan kondisi sebaliknya. Seorang driver ojek online ditanya alamat oleh penumpangnya, tapi ternyata ia sama sekali tidak tahu tempat itu. Apa yang terjadi? Bisa jadi jawabannya ragu-ragu, bertele-tele, atau malah salah arah. Penumpang pun merasa bingung, bahkan mungkin kehilangan kepercayaan.
Inilah yang juga sering terjadi dalam public speaking. Jika kita tidak menguasai materi, maka penjelasan kita terdengar ragu-ragu, tidak fokus, dan sulit dipahami audiens. Bahkan, bukannya memberikan kejelasan, justru bisa menimbulkan kebingungan.
Maka hal ini menjadi perkara penting dalam public speaking, kuasai materi yang akan kita bawakan, persiapkan dengan baik, dan sampaikan dengan mantap.
2. Membuat struktur penyampaian
Saya akan mengawali penjelasan disini dengan pandangan tokoh tokoh terkenal :
- Albert Einstein: “If you can't explain it simply, you don't understand it well enough.” (Kalau kamu tidak bisa menjelaskannya dengan sederhana, berarti kamu belum benar-benar memahaminya).
- Leonardo da Vinci: “Simplicity is the ultimate sophistication.” (Kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi).
- Richard Feynman (fisikawan): dikenal dengan Feynman Technique—kemampuan menjelaskan konsep kompleks dengan cara yang sederhana
Karena kita sudah menguasai materi dengan baik, langkah berikutnya adalah memikirkan bagaimana cara menyampaikannya agar mudah dipahami oleh audiens. Caranya bukan dengan penjelasan yang rumit atau bertele-tele, melainkan dengan penyampaian yang sederhana, jelas, dan langsung pada inti.
Keberhasilan seorang pembicara bukan hanya diukur dari seberapa banyak materi yang ia kuasai, tetapi sejauh mana audiens mampu memahami pesan yang ia sampaikan. Semakin sederhana dan mudah dipahami, semakin besar nilai plus seorang speaker di mata audiens.
Nah agar tidak bertele-tele, diantara cara yang bisa kita lakukan adalah dengan membuat struktur penyampaian. Jika melihat struktur public speaking secara keseluruhan polanya adalah : Opening-Body-Closing. Maka untuk materi utama letaknya ada di Body.
Oke saya jelaskan
- Opening
Maksud dari pembukaan adalah bagian awal sebelum kita masuk ke materi utama. Meski singkat, bagian ini sangat penting karena berfungsi untuk membangun kedekatan dengan audiens sekaligus memberikan kesan pertama bahwa kita adalah pembicara yang kompeten dan layak mereka dengarkan.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam pembukaan. Misalnya:
- Ice breaking, untuk mencairkan suasana.
- Pantun ringan, agar audiens merasa akrab dan terhibur.
- Bernyanyi atau menari singkat, jika konteks acara memungkinkan.
- Cerita atau analogi singkat, yang relevan dengan tema materi.
- Menampilkan video profil
- Perkenalan singkat
- Muqadimah salawat, salam dan membaca ayat untuk ceramah agama Islam
- Dan lain-lain
Intinya, pembukaan bukan sekadar formalitas. Ia adalah momentum awal yang menentukan bagaimana audiens akan memandang kita sebagai pembicara. Melalui pembukaan, kita bisa membangun kepercayaan, kedekatan, sekaligus menarik perhatian audiens sebelum masuk ke inti materi.
Karena ada banyak pilihan cara untuk melakukan opening, maka di sinilah letak ruang bagi seorang public speaker untuk berkreasi dan menunjukkan gaya khasnya.
- Body
Nah ini adalah inti dari inti, core of the core hehehe… bagaimana kita menyiapkan materi, Ada beberapa cara yang bisa digunakan
1. Metode Impromptu (Ad Libitum)
Metode impromptu adalah teknik berbicara di depan audiens tanpa persiapan naskah maupun catatan pendukung. Tidak ada poin-poin yang ditulis, semuanya disampaikan secara langsung dan spontan sesuai situasi. Biasanya metode ini digunakan dalam kondisi mendadak atau darurat. Dalam dunia penyiaran, istilah ad libitum berarti berbicara tanpa script. Oleh karena itu, metode ini sangat bergantung pada kemampuan pribadi seorang pembicara untuk mengolah kata dan menguasai audiens.
2. Metode Membaca Naskah (Reading Manuscript/Prompter)
Pada metode ini, pembicara menyampaikan pesan dengan membaca naskah lengkap yang telah disusun sebelumnya. Isi naskah biasanya memuat informasi yang penting dan tidak boleh ada kesalahan. Contoh penerapannya adalah pidato resmi pada upacara, pengumuman darurat tentang kebijakan negara, atau pengumuman hasil pemilu.
Berbicara di depan kamera secara monolog saat ini bisa dibantu dengan memanfaatkan fitur prompter yang menampilkan skrip/naskah secara lengkap.
3. Metode Hafalan (Memoriter)
Metode memoriter dilakukan dengan cara menghafalkan isi pidato atau teks sebelum tampil, sehingga saat berbicara tidak lagi membawa naskah. Teknik ini menuntut daya ingat yang kuat sekaligus penguasaan ide, alur gagasan, dan bahasa yang dipakai. Metode ini cukup menantang, tetapi sangat efektif bagi pembicara yang mampu melakukan improvisasi, sehingga pesan yang disampaikan tidak hanya berupa kata-kata hafalan, melainkan juga dapat diperkaya dengan ekspresi dan emosi yang meyakinkan.
4. Metode Menggunakan Catatan (Using Note/Mind Map)
Metode ini memanfaatkan catatan kecil berupa poin-poin penting atau kerangka utama dari materi yang akan disampaikan. Catatan ini berfungsi sebagai pengingat agar pembicara tetap terarah, tetapi tidak kaku seperti membaca naskah penuh. Teknik ini paling sering dianjurkan, terutama untuk pembicara berpengalaman, karena memberi keleluasaan untuk tetap fleksibel sekaligus menjaga struktur penyampaian.
Untuk struktur materi, pada prinsipnya mirip dengan kerangka besar dalam public speaking, yaitu pembukaan/pengantar – isi/inti materi – penutup/kesimpulan. Namun, susunannya bisa berbeda-beda tergantung pada latar belakang keahlian pembicara dan karakter materi yang akan dibawakan. Jadi, pada akhirnya Andalah yang paling memahami bagaimana sebaiknya materi disusun dan disampaikan.
- Closing
Untuk bagian ini, langsung saja simak paparan dari Steny Agustaf di tautan berikut :
Saya rasa untuk aspek verbal kita cukupkan saja, kita matangkan saja langsung di bagian selanjutnya. Saat kita berlatih dengan AI.