Bagian I MINDSET

Apa itu mindset ? Mindset adalah pola pikir yang membentuk cara kita memandang, merespons, dan bertindak dalam kehidupan. Apa yang kita yakini di pikiran akan memengaruhi sikap, perilaku, dan tindakan kita. Dari sini kita dapat memahami bahwa mindset ini ada di ranah pikiran, artinya apa yang dipersepsikan oleh pikiran kita, maka akan berpengaruh pada sikap, perilaku dan tindakan kita. Ok.

Langsung to the point, jika ada seseorang yang sikap, perilaku atau tindakan saat public speaking-nya : belibet, grogi, nervous dan seterusnya, maka sebelum mengevaluasi hal-hal yang lain, perlu dicek dahulu bagaimana persepsi dia terhadap public speaking ? mengapa public speaking malah membuatnya nervous, nge-blank, belibet dan seterusnya ?

  • Takut salah hingga ditertawakan ?
  • Takut terlihat bodoh hingga memalukan ?
  • Tidak percaya diri merasa bukan ahlinya ?

Bisa jadi masih ada alasan-alasan lainnya, Nah, sebelum mencari dan memahami teknik-teknik public speaking, kita perlu merubah dulu cara berpikir kita. Mindset-lah yang menjadi prioritas untuk dibenahi pertama kali. maka pada tahapan ini, saya akan memberikan strategi yang perlu ditanamkan dalam benak Anda, instal agar menjadi mindset Anda :

  1. Berdamai dengan rasa Gugup (Nervous) & khawatir (Anxiety)

Merasa gugup-khawatir sesaat sebelum tampil untuk menjadi speaker adalah hal yang natural dan dialami oleh semua orang, ya semua orang tanpa kecuali, bahkan jika Anda coba bertanya kepada public speaker yang populer-populer itu, mereka pun mengalami kekhawatiran-nervous saat akan berbicara di depan umum. Saya tidak perlu menyebutkan siapa-siapanya, yang pasti mulai dari speaker level nasional hingga level internasional, bahkan pemimpin negara sekalipun mengalami hal yang sama. Bisa Anda googling fakta-faktanya.

Namun, meski itu merupakan sesuatu yang natural dan dialami siapapun, seorang public speaker dapat mengendalikan rasa gugup-khawatir tersebut, sehingga tidak merusak tujuannya sebagai speaker. Public speaker berdamai dengan gugup-khawatir dalam beberapa saat, selanjutnya segera akan menikmati kata demi kata yang ia sampaikan, gugup-khawatir berubah tergantikan oleh kegembiraan dan antusiasme.

Secara fisiologis, rasa gugup itu adalah adrenalin. Tubuh sedang mempersiapkan Anda untuk tampil maksimal. Jadi bukan musuh, tapi energi yang bisa diarahkan.

Maka tidak perlu mempermasalahkan rasa gugup & khawatir, berdamailah !

Lalu bagaimana mengendalikan rasa gugup-khawatir agar tidak terus melekat, selama kita berbicara di depan umum bahkan menggesernya menjadi excitement ? jawabannya ada di poin no.2

2. Public speaker memiliki keinginan berbagi (sharing) yang besar

Mengapa kita harus berbicara di depan umum ? karena seorang public speaker ingin membantu orang lain, ingin berbagi, seolah ingin menyampaikan: “Hai Bapak-Ibu, teman-teman, saya akan menyampaikan informasi bermanfaat untuk kalian”. Kenapa kita berbicara didepan umum ? karena kita ingin membantu orang lain. Maka cara pandang (mindset) ini seketika akan menggantikan rasa khawatir, karena kita memiliki sesuatu untuk membantu orang lain. Sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Kenapa harus khawatir ? kenapa harus takut ? Kita sedang berbuat baik koq. Kita akan membuat mereka happy dengan apa yang kita sampaikan.

Agar lebih jelas, coba bayangkan perasaan Anda saat bisa memberikan uang atau sekotak makanan kepada orang lain !… sudah ? maka kurang lebih perasaan seperti itulah sesungguhnya yang sedang Anda perjuangkan ketika menjadi pembicara dihadapan umum. Perasaan lega, bahagia sebagaimana berbagi…. dan akan semakin jelas terasa setelah Anda selesai berbicara dihadapan mereka. Yang pasti rasanya nikmat sekali. Hehehe

Mungkin sebagian dari Anda akan menyela dan beralasan “saya berbicara itu untuk pitching atau presentasi penjualan produk, bukan berbagi atau membantu ”. Maka saya jawab, sama saja dan tidak masalah. Memangnya kita berjualan akan merugikan orang lain ? Tentu tidak, berjualan itu pada hakikatnya sedang bertukar kemanfaatan. Satu pihak akan mendapatan produk yang membantu kehidupannya, dipihak lainnya happy mendapatkan manfaat dari pertukaran yang terjadi. Jual beli pada prinsipnya didasari oleh sama-sama happy dikedua belah pihak, bukan eksploitasi satu pihak terhadap pihak lainnya. Clear ya ?

Maka Mindset no 2 ini, seketika akan melahirkan kegembiraan & antusiasme.

3. Bersyukur

Ya, milikilah cara pandang bahwa kita perlu bersyukur saat menjadi public speaker, jelas sekali tidak semua orang mendapatkan kesempatan tersebut. Bersyukur atas kesempatan untuk berbuat baik, bisa jadi bukan kepada 1-2 orang tapi ke puluhan hingga ribuan orang. Sekali bicara tetapi sekaligus mendapatkan energi positif dari sejumlah orang yang kita hadapi. Keren bukan ?

Dengan bersyukur, kita berhenti fokus pada kelemahan diri, dan mulai fokus pada kesempatan luar biasa yang kita punya.

Maka bersyukurlah ! hadirkan perasaan bersyukur itu saat Anda sedang berbicara dihadapan mereka, nikmatilah ! syukurilah !

Nah kira-kira, menurut Anda dalam kondisi perasaan bersyukur apakah gugup-khawatir akan terus menemani saat kita menjadi speaker ? Saya yakin jawabannya akan sama tanpa harus saya ketik disini. Rasa syukur akan menurunkan degup jantung kita yang sebelumnya kencang, nafas yang pendek-pendek akan menjadi lebih tenang, saat itulah sikap kita menjadi lebih terkendali, lebih anggun dan akan menarik perhatian audiens. Uh, keren pokoknya

Ya, hanya 3 hal ini saja yang perlu ada untuk menjadi MINDSET Anda sebagai seorang public speaker. Menikmati gugup-khawatir yang natural itu, kendalikan dengan cara pandang bahwa kita akan memberikan manfaat untuk audiens dan syukuri atas momen yang diberikan kepada kita untuk menjadi speaker. Tidak banyak, tetapi percayalah ini berdampak besar terhadap performa public speaking kita.

Saya faham mungkin sebagian dari Anda masih skeptis, tapi izinkan saya menekankan: mindset ini bukan opsi tambahan. Tetapi Ia adalah pondasi (cek lagi diagram sebelumnya). Tanpa mindset yang benar, semua teknik public speaking tidak akan berdiri diatas pondasi yang kuat. Jadi setuju saja ya ? Harus setuju ! No debat ! Hehehe

Sebetulnya ada satu mindset lain yang tak kalah penting. Namun saya yakin, dengan Anda memilih program AI Powered Public Speaking Mastery ini, artinya Anda sudah memilikinya.

Mindset itu adalah: Public speaking adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih, bukan bawaan lahir.

Bahkan seorang introvert pun bisa menjadi pembicara yang memukau. Jadi, kalau ada yang beranggapan bahwa public speaking adalah bakat turunan, itu jelas keliru. Kalau memang murni bawaan lahir, tentu Anda tidak akan repot belajar dan berlatih di sini, bukan? 😉

Oke Tarik nafas dulu, tariiiiiik—-tahan 5 detik—-hembuskan…. Yes, yuk bisa yuk ! Shifting our mindset memang sesederhana itu hanya 3 poin saja.

Jika Anda sudah siap untuk melanjutkan, kita akan masuk untuk mempelajari dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan public speaking knowledge, ya bisa dikatakan ini adalah perkara-perkara teknis yang banyak digunakan oleh public speaker di luar sana dan sudah terbukti powerful dan work. Maka kita akan coba memahaminya kemudian akan kita jadikan pegangan untuk mengasahnya agar menjadi skill public speaking kita. Are you ready ?

Halaman selanjutnya >>>